Ayo Makan Bersama

0



Makan bersama di sekolah itu selalu jadi momen yang paling ditunggu anak-anak. Bayangno, aroma lauk dari kotak bekal nyebar ke seluruh kelas — mulai dari wangi tempe goreng, telur balado, sampe sambel terasi yang sukses bikin hidung bergetar. Tapi tenang, Gus, ini bukan MBG (Makan Bergizi Gratis), ini MBR — Makan Bekal Rumahan. Bedanya? Kalo MBG dibiayai negara, nek MBR ya dibiayai ibu masing-masing, lengkap dengan doa, “Mugo-mugo wareg, ora ketuker karo rantange bapak.”
😄
Lucunya, anak-anak itu punya rasa nasionalisme yang tinggi soal bekal. Ada yang bangga banget nunjukin bekal dari rumah: “Ini ayam goreng buatan Mama!” sambil senyum lebar. Ada juga yang diam-diam tukeran lauk: mie goreng ditukar nugget, telur puyuh ditukar tempe. Saking kompaknya, makan bareng jadi ajang barter paling damai di dunia pendidikan. Ora ono inflasi, ora ono resesi, sing ono mung tukeran sayur.
😂
Dan yang paling penting, makan bekal dari rumah ini aman sentosa. Nggak perlu takut keracunan, karena yang masak ya orang rumah sendiri. Sudah lolos verifikasi sejak anak belum lahir. Nasi, sayur, dan lauknya sudah lolos uji laboratorium dapur keluarga. Kalo pun misale ada efek samping—kayak ngantuk abis makan banyak—ya itu bukan keracunan, tapi karbohidrat yang bekerja dengan penuh dedikasi. Wong mangan akeh iku tandane sehat, bukan suatu dosa besar, Gus.
🍱
Intine, makan bareng di sekolah itu bukan cuma soal isi perut, tapi juga soal rasa kebersamaan. Anak-anak belajar bersyukur, berbagi, dan menghargai jerih payah orang tua. Lagian, makan bareng teman lawuh ayam goreng kuwi rasane luwih enak ketimbang makan sendiri lawuh uyah.
😆
Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)
Gerakan Pramuka Kwartir Ranting XI-08-14 Kecamatan Dukun